Sudah satu tahun lebih berlalu sejak Mei 2025, momen di mana aku mengambil keputusan yang bagi sebagian orang mungkin ekstrem: menghapus akun Instagram. Keputusan ini nggak datang tiba-tiba. Waktu itu, aku sampai di satu titik di mana rasanya overwhelmed banget. Menatap layar ponsel bukan lagi bikin terhibur, tapi malah bikin capek. Aku merasa nggak produktif, waktuku habis menguap begitu saja cuma buat scrolling tanpa arah, melihat potongan hidup orang lain yang sebenarnya nggak ada hubungannya dengan hidupku.
Aku teringat sebuah tulisan di Medium oleh Denzel Damba yang berjudul “Why I Quit Social Media and How It Changed My Life”. Isinya menampar sekaligus menginspirasi aku untuk berani mengambil langkah yang sama. Dan tebak? Ternyata hidup setelah log out itu rasanya… lega banget.
Media Sosial yang “Tersisa“

Bukannya aku anti-teknologi total, ya. Aku tetap realistis dengan kebutuhan fungsional dan pekerjaan. Sampai saat ini, aku hanya menyisakan beberapa platform dengan fungsi yang super ketat:
- Facebook: Akun ini masih ada, tapi temannya cuma dua orang! Spesifik aku gunakan hanya untuk urusan pekerjaan menulis.
- X (Twitter): Masih aku simpan sesekali buat tempat mengeluh alias sambat, dan tentu saja… berburu giveaway, hehe.
Lalu, bagaimana kalau mau tahu info terkini yang lagi hype? Ya tinggal browsing saja langsung. Aku nggak lagi mengandalkan algoritma media sosial untuk menyuapi aku informasi.
Alih Energi: Dari Scrolling Menjadi Eksplorasi
Efek paling terasa setelah lepas dari Instagram sejak setahun lalu adalah waktu yang mendadak jadi luas. Pikiran jadi jauh lebih tenang karena terbebas dari noise yang nggak penting. Hidupku jadi jauh lebih nyaman karena punya waktu berkualitas untuk nonton drama China (dracin) tanpa merasa bersalah, hahahaha! Tapi nggak cuma nonton dracin, pelan-pelan aku mencoba menyalurkan kembali energi yang dulu habis buat scrolling untuk kembali ke hobi lamaku menulis.
Aku mulai merangkak lagi dari hal-hal kecil. Mulai dari rajin menulis review makanan di salah satu aplikasi, hingga mulai ikut berbagai kelas diskusi. Aku bahkan sempat ikut kelas budaya Korea! Ya, meskipun kelas budaya Koreanya belum berakhir jadi tulisan apa-apa sih, tapi proses belajarnya seru banget dan mengembalikan gairahku untuk menyerap hal baru.
Finally, Punya “Rumah” Sendiri

Dulu, aku sebenarnya sangat aktif menulis. Mulai dari membangun cerita di Wattpad hingga akhirnya membuahkan hasil berupa tiga buku fiksi romance yang terbit di penerbit mayor, serta dua antologi bersama penulis lainnya. Aku juga sempat mengambil proyek menulis lepas untuk buku kenangan sekolah hingga menggarap TOR untuk beberapa lembaga dan instansi.
Meskipun hasil dari proyek-proyek itu lumayan banget, selama ini aku belum benar-benar menyeriusinya sebagai pendapatan utama. Makanya, hasilnya masih fluktuatif alias berada di level “blabla” karena konsistensinya belum aku jaga. Salah satunya ya karena fokusku yang gampang terpecah oleh keriuhan media sosial.
Namun setelah satu tahun berproses pasca-hapus Instagram, langkah besar itu akhirnya datang juga. Finally, sekarang aku punya blog sendiri! Bukan cuma sekadar numpang di platform gratisan, tapi benar-benar modal beli domain sendiri untuk jangka panjang. Membeli domain ini rasanya seperti punya komitmen baru dengan diri sendiri kalau aku siap mengisinya dengan tulisan-tulisan yang lebih bermakna.
Ingin Tahu Kabarku? Silakan WhatsApp
Banyak yang bingung, “Kalau gak main sosmed, gimana cara orang tahu kabar kita?” Prinsipku sekarang sederhana: kalau ada teman yang memang peduli dan ingin tahu kehidupanku, ya langsung WhatsApp saja. Hubungan yang personal lewat jalur pribadi seperti itu rasanya jauh lebih hangat dan nyata.
Aku juga masih sesekali update kegiatan sehari-hari lewat WhatsApp Story, kok. Bedanya, di sini penontonnya adalah orang-orang yang memang punya kontakku secara personal, bukan orang asing.
Menghapus Instagram sejak Mei 2025 adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah aku ambil. Dari sana, aku belajar menolak tenggelam dalam riuhnya dunia maya, demi bisa membangun duniaku sendiri secara utuh dan blog berdomain resmi ini adalah buktinya.
Yuk, Ngobrol di Kolom Komentar!
Apakah kamu juga pernah merasa overwhelmed dengan media sosial dan punya impian untuk kembali fokus ke hobi lama yang sempat tertunda? Tulis cerita atau pendapatmu di bawah, ya!






