Pernah nggak sih kamu ditanya, “Emang bisa ya hidup cuma dari menulis?” Sebagai orang yang sudah pernah menelurkan tiga novel di penerbit mayor dan beberapa antologi, aku sering banget dapet pertanyaan ini. Jawabannya selalu sama: Bisa.Tapi, “menulis” di sini maknanya luas banget. Nggak cuma soal nunggu inspirasi jatuh dari langit buat bikin adegan romantis di novel.


Menulis Sebagai “Jalan” Profesional

Menulis dari mana saja

Dulu, aku mungkin melihat menulis itu sebagai hobi yang menghasilkan. Tapi belakangan, sudut pandangku bergeser. Menulis itu ternyata sebuah skill teknis yang bisa dijual ke banyak pintu. Aku pernah merasakan gimana rasanya dibayar bukan untuk sebuah plot cerita, melainkan untuk sebuah naskah buku kenangan sekolah. Menulis buku kenangan, tantangannya beda. Kita nggak cuma main rasa, tapi main data, riset, dan bagaimana membungkus fakta jadi cerita yang enak ditonton atau dibaca.


Belum lagi kalau bicara soal menggarap Terms of Reference (TOR) untuk kegiatan lembaga atau kementerian. Kedengarannya kaku dan membosankan? Mungkin bagi sebagian orang. Tapi bagiku, itu adalah seni menyusun struktur. Bagaimana visi besar sebuah lembaga bisa diterjemahkan ke dalam tulisan yang taktis dan jelas. Di sinilah tulisanmu nggak cuma jadi “bacaan”, tapi jadi “panduan”.


Lumayan” yang Sering Terabaikan


Jujur saja, dari proyek naskah feature, TOR, hingga buku kenang-kenangan sekolah yang pernah aku garap, hasilnya itu… lumayan banget. Bahkan seringkali lebih cepat cair daripada menunggu royalti buku yang datangnya per semester, hehe.
Tapi ya itu tadi. Karena selama ini aku belum benar-benar “menyeriusi” jalur ini sebagai pendapatan utama, hasilnya masih terasa seperti bonus. Masih di level “yawdahlah” karena konsistensinya belum aku jaga.


Pekerjaan Utama atau Sekadar Sampingan?

Jadi, apakah menulis bisa jadi pekerjaan utama?Bisa, asalkan kita berani melepas idealisme bahwa “menulis = menulis buku”. Menulis bisa berarti jadi scriptwriter, pembuat proposal, penyusun laporan tahunan, hingga content creator. Psst, aku bahkan pernah dibayar hanya untuk membuat caption postingan sosial media sebuah lembaga.
Transisi dari menulis fiksi yang penuh perasaan ke naskah fungsional yang penuh aturan itu memang menantang. Tapi di situlah letak mahalnya seorang penulis. Kita punya empati dari fiksi, tapi punya logika dari tulisan teknis.


Kalau kamu punya kemampuan untuk “bunglon”, seperti misalnya pagi garap TOR Kementerian/lembaga, malam lanjut bab naskah novel, menulis bukan lagi sekadar pekerjaan utama, tapi sebuah karier yang nggak ada matinya.


Yuk, Ngobrol di Kolom Komentar!


Kalau kamu sendiri gimana? Lebih nyaman fokus di satu jalur tulisan yang idealis, atau tertarik juga jadi “penulis bunglon” yang serba bisa? Tulis pendapatmu di bawah, ya!

Posted in

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *