Mencuri Jeda: Mengapa Aku Memilih Pulang ke Blog

Sejak Mei 2025, aku memutuskan untuk benar-benar pergi dari keriuhan Instagram. Bukan sekadar menghapus aplikasinya, tapi aku memilih menonaktifkan akunnya secara total. Dunia di sana terasa terlalu bising, terlalu cepat, dan terkadang membuatku lupa bagaimana caranya menikmati keheningan. Tanpa TikTok dan hanya menyisakan Facebook dengan dua orang teman untuk urusan pekerjaan, aku merasa seperti menemukan kembali ruang bernapas yang sudah lama hilang.

Bahkan di platform X pun, perjalananku tidak mulus. Dua kali akunku ditangguhkan karena terlalu antusias mengejar lomba. Kegagalan-kegagalan kecil itu justru membuatku berpikir, ke mana seharusnya aku membawa pulang cerita-ceritaku? Aku butuh tempat yang lebih stabil, tempat yang tidak memaksaku untuk terus berlari mengikuti algoritma yang melelahkan. Akhirnya, aku memilih untuk kembali ke sini, ke sebuah blog yang kuharap bisa menjadi rumah yang hangat.

Alasanku sederhana: aku ingin melatih kembali jemariku untuk merangkai kata. Aku rindu pada masa di mana sebuah cerita tidak dinilai dari berapa banyak jumlah “suka”, melainkan dari seberapa dalam makna yang bisa dirasakan. Melalui blog ini, aku ingin merekam setiap fragmen kehidupan, foto-foto yang kutangkap, aroma parfum yang membekas, hingga rasa es kopi latte yang menemaniku di antara stasiun Bogor dan Jakarta.

Kenapa tanpa wajah? Saat ini, aku memilih untuk tetap faceless karena aku ingin dikenal melalui apa yang kutulis.  Aku ingin ceritaku menjadi milik siapa saja yang membacanya, tanpa ada batasan visual yang membelenggu imajinasi mereka. Di sini, biarkan tulisan yang menjadi juru bicara utamaku.

Blog ini adalah ruang arsip kenangan. Di tengah laju waktu yang enggan menunggu, aku butuh tempat untuk membekukan momen. Entah itu tentang pertemuan singkat dengan kucing lucu di trotoar, atau tentang kegelisahan di tengah gerbong KRL yang padat. Aku ingin saat aku menua nanti, aku punya tempat untuk pulang dan mengingat kembali langkah-langkah kecil yang pernah kuambil. Ini adalah caraku menghargai setiap detik yang telah kulewati.

Jadi, selamat datang di rumah baruku. Mari duduk bersama sejenak di sudut ini. Ambil segelas minuman favoritmu, dan mari kita mulai bercerita. Tidak perlu terburu-buru, karena di rumah ini, waktu adalah milik kita sepenuhnya. Mari kita rayakan kesederhanaan, kejujuran rasa, dan setiap jeda yang tercipta di antara riuhnya dunia.

Posted in

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *