2 Mei 2026 – Akhir pekan kali ini diisi dengan rutinitas yang sedikit berbeda, namun tetap berada dalam orbit dunia kepenulisan dan komunikasi. Berawal dari informasi Irma, yang paham betul betapa senangnya aku mengeksplorasi hal-hal baru, aku melangkahkan kaki ke kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Tepatnya, ke kantor Prambors FM untuk menghadiri sesi kelas yang membahas dapur siaran radio.
Acara dimulai sekitar pukul 09.30 pagi. Dari sekitar 77 orang yang bergabung dalam grup WhatsApp pendaftaran, terlihat ada 30-an peserta yang hadir secara fisik hari itu. Suasananya jauh dari kesan kaku sebuah seminar formal. Kami duduk lesehan di atas karpet merah bermotif, membaur sambil menikmati bekal makanan dan minuman masing-masing. Sederhana, tanpa biaya pendaftaran, namun ruang belajar ini terasa sangat hidup dan interaktif.

Mentor di Depan Kelas: Ilham Ramdana
Sosok yang duduk santai di atas kursi kecil di depan kami adalah Ilham Ramdana. Bagi pendengar Prambors FM, namanya tentu tidak asing. Mengudara sejak tahun 2009, Ilham tidak hanya mengantongi jam terbang tinggi, tetapi juga mendirikan komunitas Belajar Radio. Selama sesi berlangsung, ia membawakan materi dengan gayanya yang khas: ceplas-ceplos, mengalir santai, namun setiap poin yang dilemparkan ke ruang diskusi terasa sangat insightful.
Melalui paparan layarnya, Ilham membedah anatomi seorang penyiar melalui tiga pilar utama:
1. Fondasi Profesi: How To Be
Menjadi suara di balik mikrofon membutuhkan daftar periksa yang cukup padat. Ilham memaparkan bahwa seorang penyiar profesional harus memiliki fondasi kuat yang terdiri dari:
• Skill & Vocal: Kemampuan teknis dan pengolahan suara.
• Knowledge & Update: Selalu haus akan informasi terbaru.
• Music & Attitude: Pemahaman musik yang baik serta etika yang menjadi landasan utamanya.
Gabungan elemen-elemen inilah yang membedakan pembicara biasa dengan seorang penyiar profesional.
2. Membangun Karakter: Personality DJ
Observasi berlanjut pada bagaimana seorang penyiar membangun identitasnya. Ilham menekankan pentingnya Keep In Touch With Listener. Apa yang disampaikan harus relevan dan dekat dengan keseharian pendengar agar tercipta interaksi dua arah.
Secara bersamaan, pendekatannya juga harus bersifat personal, di mana penyiar dituntut menonjolkan karakter yang kuat. Identitas unik inilah yang membuat pendengar merasa memiliki “teman” di ujung frekuensi, bukan sekadar mendengarkan orang asing.
3. Seni Mengudara: Training & Theater of Mind
Di bagian teknis, pembahasan menyinggung seni komunikasi berbasis suara atau theater of mind. Ilham membeberkan teknik dasar saat mengudara: “Talk to one person.”
Meski disiarkan ke ribuan telinga, narasi harus disampaikan seolah-olah sedang berbicara empat mata. Di sinilah teknik smiling voice dan permainan ekspresi mengambil peran penting untuk menghidupkan cerita, yang tentu saja harus diimbangi dengan kemampuan script reading yang natural.
Mengintip Dapur Siaran
Sesi hari itu benar-benar berjalan interaktif. Kami dibebaskan untuk bertanya apa saja seputar dinamika dunia siaran, dan Ilham menanggapinya secara langsung dengan antusias.
Sebagai penutup yang istimewa, kami bahkan diperbolehkan untuk mengintip langsung ruang siaran Prambors FM sebelum acara berakhir di sekitar pukul 12.40 WIB. Sebuah kesempatan menarik untuk melihat dari dekat tempat keajaiban audio itu diproduksi setiap harinya.

Sebuah Refleksi Akhir Pekan
Rasanya bersyukur sekali bisa mendapatkan perspektif dan ilmu baru hari ini. Ternyata, membangun cerita dan menjaga kedekatan dengan audiens murni melalui suara punya seni dan tantangannya sendiri.
Pengalaman ini menjadi pengingat berharga buatku untuk selalu mau menjadi gelas kosong yang siap diisi ilmu baru kapan saja. Semoga apa yang aku pelajari bisa bermanfaat dan memperkaya caraku merangkai narasi ke depannya.
Semoga akhir pekanmu juga seru dan membawa banyak inspirasi baru!

Tinggalkan Balasan